Asus Zenbook Pro 15 UX850GD : Tampan, Tapi Nanti Dulu Deh

Jadi, cakepan laptopnya, atau mba-mbanya? (doc. gadgetainment)

Dear, diary gadgetainment

Pagi itu, ada bisik suara menggema di rongga kepala melintasi otak, katanya, “mau bingkisan, atau mau leha-leha?”. Jiwa belum sepenuhnya terkumpul, kepala udah sibuk duluan. Dengan kekuatan penuh, gue meyakini diri gue sendiri untuk bangun dan memulai hari dengan basmallah, semoga hari ini menyenangkan dan tidak banyak balanya.

Untuk memastikan acara, gue konfirmasi lagi ke Bapak Bos (sebut saja bos). Belio kirim alamat yang jadi venue acaranya, sejujur-jujurnya, gue saat itu antara sedih dan senang. Sedih, karena gue tau di situ pasti kikuk, secara pribadi gue jarang banget meliput acara teknologi, gue biasanya dateng ke undangan nonton film. Maka yaudahlah, karena gue inget-inget lagi, gue akan menciptakan sebuah pengalaman gue sendiri yang bisa gue ceritain di sini, melihat langsung bagaimana penampakan produk terbarunya Asus.

Baiklah, acaranya jam makan siang katanya, kebetulan gue makan siang bisa berkali-kali jadi gue bener-bener mastiin itu jam berapa. Setelah tau jam 12 siang, gue buru-buru mandi dan melakukan ritual wanita pada umumnya, dandan setengah jam. Iya, wanita harus dandan, kalau tidak nanti percuma ada benda namanya make up di muka bumi ini.

Sekitar jam 11.40, gue bilang ke Bapak Bos kalo gue udah mau jalan. Sayangnya ketika udah dapet ojek online, Bapak Bos baru bales chat, “berangkatnya 15 menit lagi aja cil,” ealah, bambang.

Yaudah lah tuh, karena babang ojol udah dateng, mau ngga mau gue berangkat di jam 11.50. Perjalanan yang ditempuh cukup memakan waktu banyak, sekitar 40 menitan. Padahal di jalan gue udah berharap kena macet, taunya ngga. Akhirnya gue beneran sampe venue jam 12an, firasat buruk mulai menghampiri.

Gue telfon Kak Divy ngga diangkat, telfon Bapak Bos, diangkat, isinya kebingungan.

“Bapake, gue udah sampe,”

“Ngg… aduh, telfon Divy coba,”

“Udah, tapi ngga diangkat,”

“Berarti lagi di jalan, hmmm, hmmm, coba, hmm,”

“Hayolo,”

“Hmm, tunggu di sekitar situ dulu cil, ada tempat yang bisa disinggahi ngga?”

“Ada sih,”

Persis depan gue ada penyangga pohon, tapi terlalu jujur kalo gue duduk di situ, akhirnya gue jalan sejauh beberapa meter sampe nemu pengkolan yang isinya jajanan, dan satu hal yang bikin gue seneng : mamang starling. Alhasil, sembari nunggu Kak Divy, gue nongkrong dulu di pengkolan depan masjid selama 30 menit. Dan ngga berapa lama Kak Divy ngabarin kalo belio udah sampe venue.

Alhamdulillah!

Eastern Opulence, pertama kali dalam hidup gue ke tempat asing ini, padahal hampir setiap kali ke kuningan ngelewatin terus. Pertama kali masuk, langsung disambut meja registrasi, dan mba-mba berbaju hitam.

Bentar-bentar, kok gue kayak kenal mba-mbanya, gue kayak pernah liat dimana gitu.

“Nggg… Kayaknya aku pernah liat kamu deh,” kata mba-mbanya.

“Hah? Dimana?”

“Masih kuliah ngga?”

“Iya”

“Yaampun, iya, kita pernah sekelas!”

Mampus, gue pun lupa, pantes kayak pernah liat, kalaupun dia liat mengenali gue, gue belum se-famous itu. Semenjak putus di semester lima emang gue pernah minta untuk amnesia, tapi kenapa semuanya ikut terlupakan 🙁

Setelah beberes registrasi, gue dan Kak Divy menuju pameran produknya, gue yang hanya berbekal kamera dari smartphone canggih tapi tidak secanggih manusianya ini berusaha mengabadikan momen dari berbagai sudut.

Momen rebutan unit buat pamer di instastory~ Karena aktualisasi diri itu perlu (doc. gadgetainment)

To be honest, gue bener-bener amazed dengan teknologi yang diterapkan pada Asus Zenbook Pro 15 UX580GD ini. Literally mind blowing, men, gila, yang gue tau selama ini cuman orang bermuka dua, ini ada teknologi, layarnya dua! Norak? Tentu. Gue coba jajal sentuh itu screenpad, sambil ketawa-ketawa getir sendiri, merasakan gimana sensasinya nyentuh barang yang belum didistribusikan, senangnya infinity~

Udah puas dengan experience cobain Asus Zenbook Pro 15 UX580GD yang tampak slim, tampan, dan ngga berisik. Hal selanjutnya yang wartawan biasa lakukan adalah : makan. Iya, makan. Sebagai rakyat jelata, momentum seperti ini bisa dimanfaatkan sebijak mungkin, dengan makan makanan yang ada. Tau gue makan apa? Makan biola!

Minggir kamu Limbad, gue juga bisa makan benda! (doc. gadgetainment)

Well, bisa dibilang ini adalah launching teradem, tersejuk, terprivate yang pernah gue datangi selama jadi mba mba liputan. Saat acara dimulai, gue berdiri ngga duduk, padahal udah ditawarin sama temen gue (yang mba-mba di meja regis tadi) untuk duduk, tapi gue tetep bersikeras untuk berdiri bersama mas-mas yang lainnya. Nggapapa, aku kuat.

Menyimak layaknya temen presentasi di depan kelas, ada hawa ngantuk-ngantuknya, ada hawa-hawa ingin makan lagi, ada hawa-hawa ingin segera pulang. But well, gue cukup tertegun dengan keunggulan yang dipaparkan. Mau tau apa? Kapasitas penyimpanannya 1TB cuy! Audionya juga bekerjasama dengan Harman Kardon yang udah ngga diraguin lagi kualitas suaranya. Baterenya tahan sampai 9,5 jam, untuk saat ini warnanya kayaknya cuman ada biru tua, ya nama kerennya sih Deep Dive Blue.

Spesifikasi lainnya, liat aja di sini ya! (doc. gadgetainment)

Udah kebayang belum kayak gimana? Nah, tapi sebenarnya kita butuh ngga sih benda ini? Kalau mau ya tentu, tapi belum tentu butuh-butuh banget. Karena untuk gue sendiri gue ngga begitu darurat untuk membeli ini, melihat harganya juga gue udah nelen ludah sendiri. Untuk harga Rp. 35 jutaan,  sebagai mahasiswa tua yang pura-pura sibuk supaya kelihatan seimbang dengan teman sebayanya, gue rasa Asus Zenbook Pro 15 UX850GD ini lebih baik disimpan dulu di bucket list, teknologi yang ciamik, belum tentu terpakai semua.

Ibarat pacar, Asus Zenbook Pro 15 UX580GD ini udah memiliki kapasitas ingatan yang cukup banyak, udah pastinya doi pinter dong, tampilannya juga berkelas, ngga banyak neko-neko dari bentukannya juga, enak banget lah kalau punya ini, derajat lo ikutan naik. Tapi balik lagi, sesuai ngga dengan kebutuhan kita?

Jangan-jangan, kita hanya mau sesuatu, karena dia tampak bagus diluar, kita mengaku sayang, padahal kita belum tentu membutuhkannya.

hiya hiya hiya 

Tapi kalau dilihat dari keunikan layar dua itu, gue bisa nyimpulin, laptop ini bener-bener useable untuk karyawan muda, memiliki gaji yang cukup untuk foya-foya pada teknologi, gemar multitasking tapi ngga mau ribet, dan suka nonton film saat di kantor pas jamnya ada Bos suka mondar-mandir. Karena di laptop ini bisa split dua layar, satu di layar utama, satu lagi di screenpad. Pencitraannya sih, buka ms.excel, padahal di screenpad ngga tau nonton apaan. Hihi.

Well, beginilah cerita gue saat pertama kali lihat Asus Zenbook Pro 15 UX850GD. Terkesima, tapi belum pada tahap ingin memiliki. Nggatau kalo gadgetizen.